Arti Sebuah Nama !

 Ntah apa yang menjadi pemikiran Mr. Buha Pasal ketika dulu mempersiapkan nama untuk anak ke-7 nya ini. Sepertinya nama ini terasa besar bebannya. Apa mungkin beliau mendapat ilham? Atau beliau mendapat petunjuk dari kerabat terdekat? Atau ada cita-cita ingin punya anak yang menjadi pendeta?.

Yah, begitulah tafsiranku mengenai proses lahirnya gabungan nama yang luar biasa ini, tanpa pernah bisa tau langsung dari si pembuat nama, karna beliau sudah dipanggil saat ku masih kelas 6SD. Aku hanya sempat bertanya kepada Ibu, dan tentu bukanlah penjelasan lengkap beda halnya bila ku tanyakan sendiri pada si pencipta nama.

BINSAR NOMMENSEN HASIHOLAN NABABAN

Dalam perenungan, setiap ada kesempatan aku mencoba menggali pesan dari titipan nama yang melekat padaku. Bertahun-tahun aku coba memahaminya, dan tak kunjung kutemukan maknanya.

Secara harfiah, dalam terjemahan bebas, namaku diambil dari bahasa Batak Toba. Binsar artinya Terbit, Nommensen adalah Nama Penginjil Jerman, Hasiholan artinya Rindu/yang dirindukan, sedang Nababan adalah Marga yang melekat pada kami secara Patrial/garis keturunan ayah. Bila digabungkan keseluruhan nama ini dan dirangkai akan ditemukan makna nya menjadi “Telah hadir kembali Nommensen si Rasul Batak yang dirindukan itu dalam klan Nababan”.

Ya, sekilas kelihatan akan muncul berbagai tafsiran, bisa dianggap becanda juga bisa dianggap serius. Hal ini terus mengganggu pikiranku selama bertahun-tahun adanya. Sebegitu misterius kah Mr. Buha Pasal ini menggumuli kehadiran anaknya ketujuh? Sampai-sampai menitipkan pesan makna yang begitu dalam tersirat dalam namaku? Apakah ke enam anak terdahulu belum sempat beliau titipkan atau mereka memiliki makna tersendiri sesuai perannya dalam keluarga?. Sebuah pesan yang tak pernah kuterima maksudnya, hanya mereka-rekanya terus sepanjang hidup.

Beberapa waktu ini, penggumulanku mulai terjawab. Ketika kesempatan melayani di Gereja dimultimedia dan penanggung jawab IT untuk Live Streaming Ibadah kala Covid menyerang. Memaksaku untuk belajar ilmu agama secara radikal, memperkaya diri untuk bisa totalitas menyiapkan ibadah online, agar jemaat dan Gereja tetap bisa terhubung meski dipaksa mendekam d rumah selama masa covid.

Dan dimasa itupun, aku dipilih untuk melayani di bidang penginjilan sebagai anggota. Kala itu, aku memilih memperlengkapi diri dengan buku-buku teologi, serta aktivitas sosial berkaitan dogma gereja. Yang membuat ilmu ku semakin bertambah sepanjang perjalanan.

Covid berakhir, live streaming diputuskan berhenti, gereja normal kembali, periodeisasi berjalan dan melalui proses peninjauan, ntah kenapa aku masuk radar sebagai ketua Penginjilan di Gereja. Dan benarlah, setelah melakukan proses berdoa dan pendalaman, tibalah proses pelantikan, aku di lantik dihadapan jemaat sebagai ketua pekabaran Injil di Gereja. Suatu yang tidak biasa, karena usia yang masih muda memimpin Pekabaran Injil.

Dalam perjalanan itulah, aku semakin dikuatkan untuk menjalani peran Penginjilan ini. Sepanjang perjalanan tidalah mudah menjadi seorang ketua, dan diperhadapkan dengan anggota yang secara usia lebih matang dariku. Namun disini jugalah proses keimananku semakin bertumbuh dan penguatan akan tujuan hidupku di dunia ini semakin diteguhkan, dan beban nama yang ku pegang selama ini semakin memperkuat posisiku dalam penginjilan.

Belum terlalu jauh langkahku bergerak semasa periode sebagai ketua Pekabaran Injil, dan tawaran sebagai penatua Gereja juga muncul dari Jemaat. Lantas membuat pikiranku semakin terganggu. Banyak masukan dari keluarga dan kerabat terdekat untuk mengambil kesempatan itu. Tak sedikit juga yang menasihatiku untuk bersabar, dan tak usah mengambil bagian itu. Dan kembali aku mengambil posisi untuk berdoa dahulu, disinilah aku menyadari makna dan pesan yang ayah titipkan bagiku melalui nama yang melekat padaku. Bahwa menjadi Penatua Gereja bisa jadi akan mengecilkan langkah ku dalam Pekabaran Injil. 

Akhirnya, aku memutuskan untuk teguh dalam Pekabaran Injil, tanpa harus masuk dalam posisi jabatan Gereja. Dan dengan semangat itu, aku menyampaikan secara terbuka kepada Jemaat bahwa posisi saya berdiri teguh untuk Pekabaran Injil, sesuai dengan panggilan nama yang melekat padaku.

Pekabaran Injil harus dihidupi, dan menyesuaikan jaman tanpa dikalahkan oleh jaman itu.

Kedepan saya akan semakin berkarya dalam Pekabaran Injil, juga karena itu adalah Amanat Agung Yesus Kristus bagi seluruh umat percaya.

Saya perkenalkan Motto Penginjilan : Cegah jemaat pergi, Bawa kembali yang sudah pergi, dan Cari yang baru CBC!

Semoga Tuhan selalu menyertai saya.

Kiranya bermanfaat dan menjadi Berkat bagi pembaca!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENSIUN SEJAHTERA, MITOS ATAU ANGAN ANGAN?

WEALTH MANAGEMENT Untuk Apa dan Bagaimana Mempersiapkannya?